Sejarah Melempar Jumrah

59

59

Siap untuk berangkat haji ataupun umrah tahun ini? Pastikan travel yang kamu gunakan benar-benar travel umroh terbaik sehingga anda akan nyaman dalam melakukan segala kegiatan selama berada di tanah suci.

Salah satu kegiatan berhaji atau berumrah adalah melempar jumrah. Apakah itu melempar jumrah?
Melempar jumrah adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh para jamaah haji pada hari Id dan tiga hari tasyriq. Ada tiga tugu yang terletak di Mina yang senantiasa dilempari dengan batu kerikil oleh jutaan jamaah haji sedunia. Melontar jumrah juga ada waktunya dan tidak boleh didahulukan sebelum waktunya datang.

Banyak orang yang beranggapan bahwa melempar jumrah sama dengan halnya melempar setan yang sedah diikat di tugu Mina tersebut. Melempar jumrah juga sebagai simbol terhadap setan yang selalu berusaha untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dan menjauhkannya dari sang pencipta yaitu Allah SWT.

Melempar Jumrah memiliki cerita yang pernah terjadi sekitar 4.000 tahun yang lalu tepatnya ketika Nabi Ibrahim AS bermaksud menyembelih putranya Nabi Ismail AS. Ketika datang waktunya Nabi Ibrahim AS harus menyembelih putranya setan menggodanya agar menghentikan niatnya untuk menyembelih Ismail. Namun dengan keyakaninan yang penuh terhadap Allah SWT Ibrahim tetap melaksanakan perintah. Oleh sebab itu Nabi Ibrahim mengambil tujuh batu krikil dan melempar kearah setan.

Tak berhasil, setan tidak berhenti mengganggu Ibrahim, setan kemudian membujuk istri Ibrahim yaitu Hajar. Setan mempengaruhi Hajar jika sebagai seorang ibu pasti tak akan sampai hati mengetahui buah hatinya dikorbankan. Tapi Hajar melakukan yang sama yaitu melempari setan dengan batu kerikil sebanya 7 buah. Setan kembali mencoba menggoyangkan iman mereka dengan menggoda Ismail yang dianggap masih rapuh keimanannya, namun Ismail masih kukuh dengan keyakinannya dengan melakukan perlawanannya melemparkan setan dengan kerikil 7 buah juga.

Begitulah sejarah dari melempar jumrah yang menjadi pelajaran bagi umat islam. Pelemparan batu kerikil ini kemudian menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh umat islam dalama melakukan ibadah haji sebagai bentuk keteladanan atas kemuliaan dan ketakwaan Nabi Ibrahim AS, istrinya Hajar dan anaknya Nabi Ismail AS.